MEMAHAMI HAKIKAT MAKNA IDUL FITHRI


Oleh : H. Muh Chaeruddin Ibnu Mas’ud

Bulan ramadhan akan segera berlalu, dan akan datang bulan syawal yang diawali dengan pelaksanaan shalat iedil fithri, baik di masjid-masjid maupun di lapangan atau halaman sekolah / instansi yang memungkinkan untuk dilaksanakan shalat di dalamnya. Gemanya sudah bergaung jauh sebelum iedul fithri itu datang dan suasananya akan bertahan lama sampai beberapa hari dihiasi wajah-wajah gembira setiap orang mulai dari anak-anak sampai dengan yang berusia lanjut.
Ungkapan yang sudah rutin di dengar antara lain : “MINAL ‘A_IDIN WAL FA_IZIN”, ”TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM”, “KULLU ‘AAMIN WA ANTUM BI KHAIR”, “SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 Syawal MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN” dan banyak lagi ungkapan kegembiraan yang terdengar. Memang ujung daripada Ramadhan adalah IDUL FITHRI.
Idul Fithri mempunyai banyak arti; salah satu diantaranya yang berkembang di masyarakat sampai saat ini adalah HARI RAYA FITHRAH yang diidentikkan dengan saling maaf memaafkan diantara sesame. Memang pengertian tersebut tidak salah tetapi tidak seluruhnya benar atau tepatnya BELUM LENGKAP, karena ada arti lain yang lebih mengarah kepada makna yang sebenarnya.
Idul Fithri adalah berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yakni ‘ID yang artinya KEMBALI, dan FITHRI yang artinya KEJADIAN, sehingga ‘IDUL FITHRI mempunyai arti KEMBALI KEPADA ASAL MULA KEJADIAN, maksudnya kembali kepada asal mula kejadian manusia saat diciptakan oleh Allah SWT. Dengan demikian maka diharapkan bahwa orang yang sudah menjalankan ibadah puasa dan seluruh rangkaian ibadah lain yang mengiringinya akan kembali kepada asal kejadiannya.sesuai dengan konsep Allah dalam penciptaan manusia.
FITHRAH adalah POTENSI ALAMIAH yang merupakan karunia Allah Yang Maha Sempurna yang telah dianungerahkan kepada seluruh umat manusia tanpa ada perbedaan sejak manusia masih berupa janin, dan potensi alamiah ini berkembang seirama dengan pertumbuhan jasmani manusia itu sendiri, dan perkembangannya (baik dan buruknya) juga dipengaruhi sikap dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-harinya.
Sabda Rasulullah SAW.:
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ اِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخارى)
“Tidak ada seorang manusiapun dilahirkan melainkan (dia) dilahirkan atas fithrahnya, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan(diri)nya yahudi, atau nashrani, ataukah menjadi majusi” ~ (H.R. Bukhari)
Fitrah atau potensi alamiah yang dikaruniakan Allah kepada manusia adalah sebagai berikut :
1. Fithrah sebagai MAKHLUK BERAGAMA yang memilIki nilai-nilai ketaatan kepada Sang Penciptanya yakni Allah SWT. atau disebut juga dengan FITHRAH KEAGAMAAN
Ketika manusia diciptakan berupa janin dan telah sempurna Allah menciptakan jantung dan pembuluh-pembuluh darah ke semua bagian calon organ tubuh yang lain, ditiupkanlah ruh ke dalam janin tersebut oleh Allah SWT. Setelah itu diikatlah perjanjian antara makhluk-Nya (janin) itu dengan Sang Khalik yakni Allah SWT. sebagimana firman Allah yang berbunyi: :
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",(QS. Al-A’raf: 172)
Prof. DR. CG. Young (Ahli Ilmu Jiwa Dalam) menyebut Fitrah Kegamaan ini dengan istilah NATURALITER RELIGIOSA karena fitrah ini telah dibawa oleh manusia semenjak di lahir dan diberikan oleh alam sebagai bagian dari karunia Tuhan Pencipta alam semesta.
Pada perkembangan perjalanan hidupnya, kemudian manusia lupa pada perjanjian yang pernah diikat dengan Allah. Untuk mengingatkan manusia itulah maka Allah mengutus Rasul-Rasul ke muka bumi ini dan menetapkan ajaran syari’at yang harus dilaksanakan dengan berpedoman kepada kitab suci yang menyertai diutusnya Rasul-Rasul tersebut.

2. Fithrah sebagai MAKHLUK YANG SUCI yang sejak awal dilahirkan ke dunia fana ini dalam keadaan suci tanpa membawa dosa warisan dari kedua orang tuanya maupun nenek moyangnya. Fithrah ini menjadi kotor karena pemilikinya (manusia) melakukan perbuatan-perbuatan salah dan dosa.
Menurut ajaran Islam, seorang hamba Allah baru dinyatakan berdosa jika ia melakukan perbuatan dosa apabila ia telah akil baligh atau mukallaf, jika belum mukallaf maka apa yang dia lakukan belum diperhitungkan oleh Allah, sebagaimana sabda Rasul;ullah SAW. yang berbunyi:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ, عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَبْلُغَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ (رواه ابو داود وابن ماجه)
“Diangkankan kalam (tidak dicatat sebagai suatu kesalahan/pelanggaran terhadap hukumj agama) dari tiga golongan, yakni: dari anak-anak sehingga dia baligh; dari orang yang tidur sehingga bangun (dari tidurnya); dan dari orang gila sehingga ia sembuh (dari gilanya) ~ (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Inti pokok semua ajaran Islam adalah dalam rangka mengembalikan manusia kepada kesuciannya melalui HIKMAH di balik ibadah itu.
3. Fithrah sebagai makhluk BER-SUSILA yang memiliki nilai-nilai etika dan moral yang akan menempatkan manusia pada posisi lebih tinggi dari pada makhluk-makhluk yang lain dan membedakan dirinya dengan binatang. Setiap tingkah laku manusia mempunyai nilai, karena itulah maka seharusnyalah stiap perbuatan manusia harus selaras dengan fithrah yang dimilikinya.
Missi utama Rasulullah di utus ke muka bumi adalah dalam rangka menempatkan manusia pada posisi yang sebenarnya yakni sebagai manusia yang beradab dan berakhlak serta berbudi pekerti yang luhur, sebagaimana sabdanya yang berbunyi :
اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمَّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ (رواه البخارى)
“Hanya sanya aku diutus (ke muka bumi ini) adalah untuk menyempurnakan akhlak (budi pekerti) manusia” (H.R. Bukhari)
Penghayatan terhadap inti ajaran agama yang diturunkan oleh Allah akan dapat menjadi pengendali agar manusia dapat menempatkan dirinya secara tepat menurut tatanan kehidupan yang sehat dan beradap yang berpegang pada norma-norma susila yang berlaku di masyarakat yang merupakan bagian dari pada ajaran akhlak yang mulia
4. Fitrah sebagai makhluk BER-MARTABAT TINGGI, yang memiliki nilai-nilai keunggulan dibanding dengan makhluk ciptakan Allah yang lain bahkan malaikat sekalipun. Keunggulan manusia (tetapi kadang justru menjadi kelemahannya) karena memiliki nilai-nilai INTELEKTUAL, SENI dan BUDAYA. Dengan memadukan tiga hal tersebut maka manusia dapat membudidayakan alam semesta ini dengan baik dan memanfaatkannya untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia, bahkan tidak sedikit yang menjadi jembatan menuju tercapainya kebahagiaan dan kesempurnaan hidup di akkhirat.
Keunggulan yang lain yang dimiliki manusia adalah bahwa Allah tetalh menetapkan manusia sebagai :
• Makhluk yang terbaik, karena Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk tubuh yang terbaik dan memiliki nilai-nilai ruhaniyah yang paling lengkap dibanding dengan makhluk-makhluk lainnya, sebagaimana firman-Nya:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-sebaiknya” ~ (QS. At-Tin: 4)
• Disamping sebagai makhluk-Nya yang terbaik, manusia juga telah ditetapkan oleh Allah sebagai makhluk-Nya yang paling mulia. Kemuliaan itu dapat dilihat dari karunia Allah yang diberikan kepada manusia berupa kemampuan empiris dan penalarannya, sehingga manusia dapat dapat memanfaat isi alam ini dengan sebaik-baiknya dan dapat memadukan antara kemampuan intelektual, kemampuan seni dan keaneka ragaman budaya yang berkembang dari masa ke masa.
Firman Allah SWT.:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak keturunan Adam dan Kami beri mereka kendaraan (baik) di darat maupun lautan serta Kami anugerahi mareka rezeki yang baik-baik, dan sungguh (telah) Kami lebihkan mereka dari kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” ` (QS. Al-Isra: 70)
• Manusia juga merupakan makhluk-Nya yang paling disayang, hal ini dapat dibuktikan dengan hamparan karunia Allah yang terbentang luas di bumi dan apa yang ada di langit, kesemuanya diperuntukkan untuk manusia sebagai bukti kasih sayang Allah kepadanya.
Firman Allah SWT.:
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ
“Apakah tidak kamu perhatikan, bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu, dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (ke-saan) Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. ~ (QS. Luqman: 20)
Ketika manusia mengingkari keunggulannya dan cendrung melakukan kedurhakaan kepada Allah dan melakukan banyak dosa, maka Allah menjadikan manusia itu justru lebih hina dari makhluk yang paling hina sekalipun.
Diutusnya Rasul dan ditetapkannya syari’at bagi umat manusia sesungguhnya dalam rangka mengingatkan manusia agar tidak lupa diri dan selalu taat kepada ketentuannya dan dapat mensyukuri kedudukannya sebagai makhluk yang memiliki martabat yang tinggi.
5. Fitrah sebagai makhluk SOSIAL, yang memiliki ketergantungan antara yang satu dengan lainnya dan tidak dapat mencapai kesempurnaan hidup tanpa keterlibatan pihak lain sesuai dengan ketentuan-Nya
Asal mulanya manusia berasal dari diri yang satu kemudian Allah menciptakan pasangan lalu dari sepasang manusia itulah atas idzinya kemudian manusia berkembang biak dan menyebar ke seluruh belahan bumi.
Firman Allah SWT.:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
“Wahaii manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) telah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (periharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu” ~ (QS.An-Nisa: 1)
Dari kandungan ayat tersebut dapat diambil pemahaman lainnya, bahwa manusia harus hidup bermasyarakat yang didasari kasih sayang karena Allah. Bentuk kasih sayang diwujudkan dengan semangat tolong menolong dan kegotongroyongan, hidup dalam suasana yang harmonis, jauh dari perselisihan dan pertengkaran. Manusia hidup di tengah-tengah masyarakatnya harus ada interaksi yang sehat dan berkualitas, sehingga dapat mancapai keswempurnaan secara bersama-sama.
Ramadhan akan berlalu dan akan segera meninggalkan semuanya dalam kenangan. Adakah sisa-sisa pembinaan spiritual selama ramadhan berbekas pada diri ini?.
Sesungguhnya, seluruh kegiatan di bulan ramadhan mulai dari ibadah puasa yang dilaksanakan selama satu bulan penuh, shalat tarawih berjama’ah di masjid, tadarus Al-Qur’an, Kajian ke-Islaman, pembinaan seni budaya Islami, pembianaan kreatifitas anak, Festifal Anak Shaleh, pembayaran zakat, infaq dan shadaqah sampai dengan takbir keliling serta pelaksanaan shalat sesungguhnya dalam rangka menggiring manusia agar memperoleh kembali FITHRAH-nya sebagaimana dia mendapatkan pertama kalinya dari Allah SWT. sebagai karunia karena kasih sayang dan cinta-Nya yang luas kepada hamba-hamba-Nya.
Saudara-saudaraku, tulisan sengaja dibuat untuk menjadi bahan renungan bersama, apakah kita telah betul-betul kembali kepada fithrah kita secara utuh? telah kembali kepada asal mula kejadian kita?
Sebagai penutup marilah kita perhatikan firman Allah berikut ini:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٣٠﴾
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fithrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu (agama tauhid). Tidak ada perbedaan perbedaan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” ~ (QS. Ar-Rum: 30)
Dengan mentaati Allah dan menjalankan apa yang menjadi kewajiban kepada-Nya serta berpedoman kepada Kitab suci Alqur-an, maka jalan menuju tercapainya keinginan kembali ke fithrah yang akan menghantarkan menuju tercapainya KETAQWAAN sebagaimana tujuan puasa, niscaya akan dapat diujudkan. Dengan mentaati Allah dan perpedoman kepada Kitab Suci Alqur-an dan mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW. akan menyebabkan diri ini dekat dengan-Nya dan pada saatnya nanti Allah akan membimbing fithrah-fithrah manusia itu ke arah tujuannya masing-masing, sebagaimana firman-Nya:
يَهْدِي بِهِ اللّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنِ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿١٦﴾
“Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari (alam yang) gelap gulita menuju cahaya (yang terang benderang) dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus” ~ (QS. Al-Ma’idah: 16)

Sebagai ungkapan penutup perkenankan saya mengucapkan “MINAL ‘A_IDIN WAL FA_IZIN”, ”TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM”, “KULLU ‘AAMIN WA ANTUM BI KHAIR”, “SELAMAT IDUL FITRI 1 Syawal 1434 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN”