teladan seorang bani najjar Abu Ayub Al-Anshari

Pada saat Rasul memasuki Madinah semua kaum Anshar berharap agar beliau tinggal di rumah mereka. Secara silih berganti mereka menghalangi unta Nabi dengan maksud untuk diarahkan ke rumah mereka. Tetapi Nabi mengatakan, “Biarkanlah unta ini! Dia telah diperintahkan.” Maka unta beliau pun terus berjalan dan baru berhenti di halaman rumah Abu Ayub Al-Anshari.

Abu Ayub gembira sekali melihat hal itu, maka dengan tergopoh-gopoh ia menghampiri dan menyambut Nabi dengan hati gembira bercampur haru. Dia pun membawa barang bawaan Nabi masuk ke rumahnya. Ketika itu dia merasakan seolah membawa seluruh isi kekayaan dunia.

Rumahnya terdiri dari dua tingkat. Nabi memilih tingkat pertama, agar lebih mudah menemui para sahabat yang datang. Tetapi hal itu membuat Abu Ayub Al-Anshari tidak bisa tidur semalaman. Dia merasa tidak sopan untuk tidur di atas Nabi. Karenanya, dia mendatangi Nabi di pagi hari dan meminta beliau untuk pindah ke tingkat atas. Seketika itu wajah Nabi berseri-seri, lalu mengatakan, “Jangan repotkan dirimu, Abu Ayub! Tingkat bawah lebih cocok bagi kami karena banyaknya orang yang datang.” Abu Ayub mengatakan, “Aku, mematuhi perintah Rasul itu. Hingga pada suatu malam yang sangat dingin, kendi kami pecah dan airnya tumpah ke lantai. Karena takut tumpahan air itu sampai ke tingkat bawah, tempat Rasul, aku dan istriku cepat-cepat berdiri dan menghampiri tempat tumpahan air itu, lalu mengelapnya dengan sehelai kain beledu, satu-satunya kain yang kami punya dan biasa kami pakai untuk selimut. Di pagi harinya, aku menemui Nabi dan mengatakan, ‘Demi bapakku, engkau dan ibuku! Aku tidak suka berada di atasmu, dan tidak suka engkau berada di bawahku.’ Lalu aku sampaikan cerita kendi tadi dan Rasul pun mau memahami dan naik ke tingkat atas. Aku dan istriku turun ke tingkat bawah.”

Rasul tinggal di rumah Abu Ayub Al-Anshari selama kurang lebih 7 bulan. Yaitu sampai selesai membangun Mesjid Nabi dan kamar-kamar yang berada di sampingnya. Nabi kemudian tinggal di kamar-kamar itu.

Abu Ayyub Al-Anshari berhati lembut, sangat menyintai Rasul, dan ringan tangan. Memiliki sebatang pohon kurma yang dia pakai untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Dia juga salah seorang pahlawan Islam. Mengikuti semua peperangan yang terjadi pada masa Rasul dan peperangan perluasan Islam setelahnya. Kecuali bila terjadi lebih dari satu peperangan dalam waktu yang bersamaan.

Pada masa Muawiyah, dia mengikuti pasukan yang dikirimnya untuk menaklukkan Konstantinopel padahal umurnya sudah mendekati 80 tahun. Di tengah perjalanan laut dia jatuh sakit. Pada saat menjenguk, Yazid bin Muawiyah, panglima perang saat itu, bertanya kepadanya, “Engkau mempunyai permintaan, wahai Abu Ayub?” Dia meminta bila mati agar dibawa oleh tentara dan dikuburkan di bawah pagar Konstantinopel. Dan ternyata dia meninggal pada saat itu.

Mayatnya dibawa oleh tentara di tengah-tengah pertempuran. Atas kehendak Allah, pasukan ?Islam sampai juga ke pagar Konstantinopel, maka mulailah mereka menggali kuburan dan menanam Abu Ayub Al-Anshari di sana.