Pejuang anti pemurtadan di minang kabau

Pada saat berita tentang santrinya menghebohkan kota Padang, H. Syamsiar Z, pendiri sekaligus pimpinan Pesantren Khairu Ummah sedang melakukan perjalanan. Perempuan yang lahir di Jambi tahun 1928 ini sedang melakukan ibadah umrah di tanah suci Makkah.

Tapi, akhirnya sampai juga ke telinganya kabar tentang sembilan santri putrinya yang kesurupan dan menyebut nama Bunda Maria, Yesus dan Haleluya. Sebisanya ia berbuat. Dalam perjalanan, ia mengirim tim ke Padang untuk memberikan bantuan pada para santrinya. Dengan rasa was-was, Hj. Syamsiar meneruskan perjalanannya.

Sebelum sampai ke tanah suci, terlebih dulu ia singgah di dua negara, Mesir dan Turki. Lalu, perempuan dengan se-mangat besar itu pun jatuh kecewa. “Saya melihat masjid-masjid besar di Turki, diinjak-injak orang kafir dengan sepatunya tanpa hormat sama sekali. Saya melihat muslim di Mesir, setiap malam kerja berpesta pora terus-terusan,” ujarnya sambil melemparkan tatapan yang jauh.

Ketika di Mesir, ia teringat seorang kenalannya di waktu muda yang kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo. Sepulang dari negeri piramida itu, sang teman seolah tak punya gairah untuk memperjuangkan Islam. “Dulu saya heran, tak habis pikir kenapa bisa demikian. Tapi sekarang saya mengerti sepenuhnya. Sungai Nil itu menjadi tempat pesta sehari-hari,” terangnya lagi. Dalam perjalanan ibadah itu pula ia tak putus-putus dirundung sedih, betapa tidak, ia menyaksikan di negeri-negeri Islam itu, manusia seakan berlomba meninggalkan sunnah Rasulullah dan bukan menegakkannya.

Begitulah sekelumit kisah perjalanan Hj. Syamsiar Z yang dituturkan saat bersilaturahim awal Desember lalu di pesantrennya yang asri. Sebuah pesantren putri yang terletak di daerah Tunggul Hitam, Padang. Bisa jadi, Pesantren Khairu Ummah adalah satu-satunya pesantren khusus putri yang ada di tengah kota Padang. Perihal pesantrennya yang dijadikan target Kristenisasi, perempuan yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan ini sudah tak heran lagi. “Allah sendiri yang mengatakan, bahwa mereka itu tidak akan ridha dan selalu merintangi kita dari jalan-Nya,” katanya sambil mengutip ayat 120 dari surat Al-Baqarah.
Sosok ini pernah dididik oleh M. Natsir dan Buya Hamka.
Meski di usia senja, semangatnya untuk berdakwah tak pernah reda.

Pesantren Khairu Ummah didirikan olehnya pada tahun 1992. Sebuah keputusan dari jalan dakwah yang telah diambil dalam hidupnya. “Motivasi awal dari pendirian pesantren ini, saya ingin tempat ini bisa melahirkan generasi-generasi yang betul-betul bisa disebut Khairu Ummah,” ungkapnya.

Ibu Syamsiar tergolong perempuan langka. Di usianya yang lewat 75 tahun, ia masih terbilang aktif dalam banyak hal. Ia masih membimbing santri-santrinya yang berjumlah puluhan orang. Ia juga masih kerap terlihat mencangkul tanah membersihkan halaman mushalla pesantren dan yang paling luar biasa, ia masih aktif berdakwah.

Jalan dakwah seakan tak bisa dipisahkan dari kehidupannya. Sejak muda, ia telah terjun dan berkiprah di jalan ini. Dakwah pula yang membuat ia dekat dengan tokoh-tokoh seperti Buya Hamka, M. Natsir, saat ia masih belia. “Saya dulu suka membaca, dan paling banyak bacaan ya di rumah Buya Hamka,” kenangnya.

Lalu ia bercerita, karena akrab, kerap kali ia diminta untuk menggantikan Buya Hamka mengisi ceramah di daerah-daerah. “Tapi biasanya, setelah saya menyampaikan dakwah, Buya langsung tanya kepada orang yang mengundang tentang bagaimana saya, apa yang saya sampaikan, baik atau tidak dan lain sebagainya,” ujarnya.

Secara tidak langsung, pelan-pelan ia merasa sedang dididik oleh Buya Hamka. Tapi dengan jujur, Syamsiar muda selalu menyampaikan pada khalayak dakwahnya, bahwa ia tak mampu menjawab pertanyaan para hadirin. “Maaf, kalau ada pertanyaan, silakan langsung tanya ke Buya, saya belum bisa menjawabnya,” kata Syamsiar mengenang masa-masa awal ia berdakwah.

Kedekatannya dengan dunia dakwah memang tak terlepas dari pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya. Syamsiar kecil adalah seorang gadis yang cerdas. Pada zaman Belanda, ia pernah mendapat beasiswa dari Minangkabau Raad (setingkat DPRD sekarang, red) untuk melanjutkan sekolah. Di sekolah Belanda ini pula ia pernah mendapat cobaan saat ia dilarang memakai busana muslimah dan berjilbab di sekolah. Tapi Syamsiar muda tak menyerah, ia bersikukuh mempertahankan jilbabnya. “Akhirnya saya berhasil, semua itu tergantung niat dan kerasnya usaha kita. Semakin besar niat dan keras usaha kita, maka semakin besar pula izin Allah tiba,” tuturnya.

Jenjang pendidikan dilaluinya dengan mudah. Bahkan setelah lulus, ia langsung ditawari untuk memimpin sebuah Sekolah Rakjat di dekat Danau Maninjau. “Tapi waktu itu ayah melarang saya mengajar. Alasannya, nanti keenakan padahal saya masih butuh waktu untuk belajar,” katanya.

Ayahnya menyarankan ia untuk melanjutkan sekolah lagi di Mubalighot Padang Panjang. Dan Syamsiar pun pergi untuk menuntut ilmu. Semangat dakwah dan pendidik yang mengalir dalam tubuhnya, membuat Syamsiar tak hanya duduk di bangku sekolah. Ia pun aktif berdakwah dan mengajar di sekolah-sekolah informal yang ada. Sambil sekolah, ia mengajar orang-orang tua yang buta huruf pada waktu itu.

Hal seperti itu terus ia jalani, bahkan hingga kini. Jika mau diringkas, Syamsiar akan mengategorikan hidup menjadi empat hal. Belajar, mengajar, berdakwah dan mengambil hikmah. Itulah semangat hidup Hj. Syamsiar Z. Semangat itu pula yang membuatnya memberanikan diri membangun sebuah pesantren khusus untuk putri.

Pada suatu ketika ia muhibah ke beberapa kota di Jawa. Bandung, Malang, Surabaya, Solo dan Jakarta menjadi tempat ia melihat-lihat perkembangan pesantren yang ada. Ia sempat mampir ke Pesantren Hidayatullah, Pesantren Al Mukmin Ngruki dan beberapa pesantren lainnya. Sepulang dari sana, ia pun berpendapat. “Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak.”

Sejak itu ia mulai merintis sebuah pesantren. Awalnya memang masih menumpang di sebuah rumah kontrakan di bilangan Cengkeh, dekat Asrama Angkatan Darat, Padang. “Waktu itu saya bingung juga, sudah ada santri dari jauh-jauh, dari Jambi dan Bengkulu,” katanya.

Rintisan pertama Pesantren Khairu Ummah sudah dimulai. Tapi usaha keras belum akan berakhir. Belum lagi berdiri kokoh, masa kontrak rumah tumpangan sudah habis. “Saya sempat bingung waktu itu, tapi Allah memberikan pertolongan. Ada sebuah tempat di daerah Tunggul Hitam yang bisa saya tempati. Di sana kami membuka kedai kecil-kecilan, koperasi dan kolam ikan untuk menghidupi pesantren,” kenangnya.

Pelan tapi pasti, Khairu Ummah mulai menunjukkan perkembangannya. Pertolongan Allah terus datang menambah keyakinan Syamsiar. Kala itu, selain merintis pesantren, ia juga masih menjadi dosen agama di Universitas Andalas dan menjadi dosen bahasa Inggris di IAIN Imam Bonjol. “Waktu itu saya mengajar mahasiswa ekstensi. Rupanya banyak mahasiswa yang jadi karyawan di perusahan seperti Semen Padang, Indarung dan lain-lain. Ternyata, diam-diam mereka mengumbulkan dana untuk membantu pesantren yang sedang saya dirikan,” katanya.

Kini Pesantren Khairu Ummah berdiri asri di atas tanah 900 meter persegi. Tak kurang dari 70 santri mengaji dan belajar tentang Islam di sana. Dan yang tak kalah penting, para santri ini belajar dari seorang perempuan luar biasa. Mereka belajar semangat dakwah, semangat belajar dan semangat mencari hikmah dari sang guru. Semoga Allah senantiasa mengabulkan doanya, sebuah doa yang mendamba generasi khairu ummah. (Sabili)