P A N G H U L U


1. Arti Panghulu

Setelah nenek moyang orang Minang mempunyai tempat tinggal yang tetap maka untuk menjamin kerukunan, ketertiban, perdamaian dan kesejahteraan keluarga, dibentuklah semacam pemerintahan suku.

Tiap suku dikepalai oleh seorang Penghulu Suku.

Hulu artinya pangkal, asal-usul, kepala atau pemimpin. Hulu sungai artinya pangkal atau asal sungai yaitu tempat dimana sungai itu berasal atau berpangkal. Kalang hulu artinya penggalang atau pengganjal kepala atau bantal.

Penghulu berarti Kepala Kaum
Semua Penghulu mempunyai gelar DatukDatuk artinya " Orang berilmu - orang pandai yang di Tuakan" atau Datu-datu.

Kedudukan penghulu dalam tiap nagari tidak sama. Ada nagari yang penghulunya mempunyai kedudukan yang setingkat dan sederajat. Dalam pepatah adat disebut "duduk sama rendah tegak sama tinggi". Penghulu yang setingkat dan sederajat ini adalah di nagari yang menganut "laras" (aliran) Bodi-Caniago dari keturunan Datuk Perpatih nan Sabatang. Sebaliknya ada pula nagari yang berkedudukan penghulunyu bertingkat-tingkat yang didalam adat disebut "Berjenjang naik bertangga turun", yaitu para Penghulu yang menganut laras (aliran) Koto - Piliang dari ajaran Datuk Katumanggungan.

Balai Adat dari kedua laras ini juga berbeda. Balai Adat dari laras Bodi Caniago dari ajaran Datuk Perpatih nan Sabatang lantainya rata, melambangkan "duduk sama rendah - tegak sama tinggi".

Balai Adat dari laras Koto Piliang yang menganut ajaran Datuk Katumanggungan lantainya mempunyai anjuang di kiri kanan, yang melambangkan kedudukan Penghulu yang tidak sama, tetapi "berjenjang naik - batanggo turun".

Kendatipun kedudukan para penghulu berbeda di kedua ajaran adat itu, namun keduanya menganut paham demokrasi. Demokrasi itu tidak ditunjukkan pada cara duduknya dalam persidangan, dan juga bentuk balai adatnya yang memang berbeda, tetapi demokrasinya ditentukan pada sistem "musyawarah - mufakat". Kedua sistem itu menempuh cara yang sama dalam mengambil keputusan yaitu dengan cara "musyawarah untuk mufakat".


2. Kedudukan dan peranan penghulu

Di dalam pepatah adat disebut;

Luhak BapanghuluRantau barajo

Hal ini berarti bahwa penguasa tertinggi pengaturan masyarakat adat di daerah Luhak nan tigo - pertama Luhak Tanah Datar - kedua Luhak Agam dan ketiga Luhak 50-Koto berada ditangan para penghulu. Jadi penghulu pemegang peranan utama dalam kehidupan masyarakat Adat.
Pepatah merumuskan kedudukan dan peranan penghulu itu sebagai berikut;

Nan tinggi tampak jauh Yang tinggi tampak jauhNan gadang jolong basuo Yang besar mula ketemuKayu gadang di tangah padang Pohon besar di tengah padangTampek balinduang kapanasan Tempat berlindung kepanasanTampek bataduah kahujanan Tempat berteduh kehujananUreknyo tampek baselo Uratnya tempat bersilaBatangnyo tampek basanda Batangnya tempat bersandarPai tampek batanyo Pergi tempat bertanyaPulang tampek babarito Pulang tempat berberitaBiang nan akan menambuakkan Biang yang akan menembusGantiang nan akan mamutuihkan Genting yang akan memutusTampek mangadu sasak sampik Tempat mengadu kesulitan

Dengan ringkas dapat dirumuskan kedudukan dan peranan Penghulu sebagai berikut;

Sebagai pemimpin yang diangkat bersama oleh kaumnya sesuai rumusan adat Jadi Penghulu sakato kaumJadi Rajo sakato alam Sebagai pelindung bagi sesama anggota kaumnya.Sebagai Hakim yang memutuskan semua masalah dan silang sengketa dalam kaumnya.Sebagai tumpuan harapan dalam mengatasi kehidupan kaumnya.


3. Syarat-syarat untuk menjadi Penghulu

Baik buruknya keadaan masyarakat adat akan ditentukan oleh baik buruknya Penghulu dalam menjalankan keempat fungsi utamanya diatas.

Pepatah menyebutkan sebagai berikut;

Elok Nagari dek PenghuluElok tapian dek nan mudoElok musajik dek TuankuElok rumah dek Bundo Kanduang.

Oleh karena Penghulu mempunyai tugas yang berat dan peranan yang sangat menentukan dalam masyarakat adat, maka dengan sendirinya yang harus diangkat jadi penghulu itu, adalah orang yang mempunyai "bobot" atas sifat-sifat tertentu.

Perlu dicatat disini bahwa Adat Minang secara mutlak menetapkan bahwa penghulu hanya pria dan tidak boleh wanita. Disini jelas dan mutlak pula bahwa sistem kekerabatan matrilinial tidak dapat diartikan dengan "wanita yang berkuasa". Satu dan lain karena keempat unsur utama seorang penghulu seperti sebagai Pemimpin, Pelindung, Hakim dan Pengayom yang merupakan unsur-unsur yang sangat dominan dalam menentukan "kekuasaan", berada di tangan pria yaitu di tangan penghulu yang justru mutlak seorang pria itu.

Pepatah adat menetapkan sifat-sifat orang yang disyaratkan menjadi penghulu itu adalah sebagai berikut;

Nan cadiak candokio Yang cerdik cendekianan arif bijaksano Yang arif bijaksananan tau diunak kamanyangkuik Yang tahu duri yang akan menyangkutnan tau dirantiang kamancucuak Yang tahu ranting yang akan menusukTau diangin nan basiru Tahu angin yang melingkarTau di ombak nan badabua Tahu ombak yang berdeburTau dikarang nan baungguak Tahu karang yang beronggokTau dipasang turun naiak Tahu pasang turun naikTau jo ereng gendeng Tahu sindiran tingkah polahTau dibayang kato sampai Tahu bayangan ujud kataAlun bakilek lah bakalam Belum dijelaskan sudah pahamSakilek ikan dalam aie Selintas ikan dalam airJaleh jantan batinyo Jelas sudah jantan betinanyaTau di cupak nan duo Tahu dengan undang-undang yang dua puluhPaham di Limbago nan sapuluah. Tahu dengan lembaga hukum yang sepuluh.

Dapat disimpulkan terdapat 4 (empat) syarat utama untuk dapat diangkat menjadi Penghulu diluar persyaratan keturunan sebagai berikut;

Berpengetahuan dan mempunyai kadar intelektual yang tinggi atau cerdik pandai.Orang yang arif bijaksana.Paham akan landasan pikir dan Hukum Adat Minang.Hanya kaum pria yang akil-balig, berakal sehat.


4. Sifat-Sifat Penghulu

Pakaian penghulu melambangkan sifat-sifat dan watak yang harus dipunyai oleh seorang penghulu. Arti kiasan yang dilambangkan oleh pakaian itu digambarkan oleh Dt. Bandaro dalam bukunya "Tambo Alam Minangkabau" dalam bahasa Minang sebagai berikut;

a. Destar

Niniek mamak di Minangkabau Niniek mamak di MinangkabauNan badeta panjang bakaruik Yang berdestar panjang berkerutBayangan isi dalam kuliek Bayangan isi dalam kulitPanjang tak dapek kito ukue Panjang tak dapat kita ukurLeba tak dapek kito belai Lebar tak dapat kita sambungKok panjangnyo pandindiang korong Panjangnya pendinding kampungLeba pandukuang anak kamanakan Lebarnya pendukung anak kemenakanHamparan di rumah tanggo Hamparan di rumah tanggaParaok gonjong nan ampek Penutup gonjong yang empatTiok liku aka manjala Tiap liku akal menjalarTiok katuak ba undang undang Tiap lipatan berundang-undangDalam karuik budi marangkak Dalam kerutan budi merangkakTambuak dek paham tiok lipek Tembus karena paham tiap lipatanManjala masuak nagari. Menjalar masuk negeri.
b. Baju

Babaju hitam gadang langan Berbaju hitam berlengan lebarLangan tasenseng tak pambangih Lengan tersingsing tak pemarahPangipeh angek naknyo dingin Pengipas panas supaya dinginPambuang nan bungkuak sarueh Pembuang yang bungkuk seruasSiba batanti timba baliek Pinggiran berenda timbal balikGadang barapik jo nan ketek Besar berimpit dengan yang kecilTando rang gadang bapangiriang Tandanya orang besar berpengiringTatutuik jahit pangka langan Tertutup jahitan pangkal lenganTando membuhue tak mambuku Tandanya membuhul tak mengesanTando mauleh tak mangasan Tandanya menyambung tak kentaraLauik tatampuah tak berombak Laut ditempuh tak berombakPadang ditampuah tak barangin Padang ditempuh tak beranginTakilek ikan dalam aie Terlintas ikan dalam airLah jaleh jantan batinonyo Sudah jelas jantan betinanya.Lihienyo lapeh tak bakatuak Lehernya lepas tak berkatupTando pangulu padangnyo lapang Tandanya penghulu padangnya lapangalamnyo leba alamnya lebar (lapang dada/sabar)Indak basaku kiri jo kanan Tidak bersaku kiri dan kananTandonyo indak pangguntiang Tandanya bukan penggunting dalam
dalam lipatan lipatanIndak panuhuak kawan seiriang Bukan penohok kawan seiring.
c. Sarawa

Basarawa hitam ketek kaki Bercelana hitam kecil kakikapanuruik alue nan luruih untuk menurut alur yang luruspanampuah jalan nan pasa untuk menempuh jalan yang wajarka dalam korong jo kampuang ke dalam korong kampungsarato koto jo nagari serta koto dan negeriLangkah salasai baukuran Langkah bebas berukuranmartabat nan anam membatasi martabat yang enam membatasimurah jo maha ditampeknyo murah dan mahal ditempatnyaba ijo mako bakato di eja baru berkataba tolam mako bajalan di agak baru berjalan

d. Kain Sarung

Sarung sabidang ateh lutuik Sarung sebidang atas lututpatuik senteng tak bulieh dalam Pantasnya pendek tak boleh panjangpatuik dalam tak bulieh senteng Pantasnya panjang tak boleh pendekkarajo hati kasamonyo Kerja hati semuanyamungkin jo patuik baukuran Mungkin dan patut berukuranmurah jo maha ditampeknyo Murah dan mahal ditempatnya

e. Karih

Sanjatonyo karih kabasaran Senjatanya keris kebesaransamping jo cawek nan tampeknyo sesamping dan cawat yang tempatnyasisiknyo tanaman tabu sisiknya tanaman tebulataknyo condong ka kida letaknya miring ke kiridikesong mako dicabuik dikisar baru dicabutGembonyo tumpuan puntiang Hulunya tumpuan puntiangTunangannyo ulu kayu kamat Tunangannya hulu kayu kamatbamato baliak batimba bermata timbal baliktajamnyo bukan alang kapalang tajamnya bukan alang kepalangtajamnyo pantang melukoi tajamnya pantang melukaimamutuih rambuik diambuihkan putus rambut ditiupkan
Ipuahnyo turun dari langit Racunnya turun dari langitbisonyo pantang katawaran bisanya pantang berpenawarjajak ditikam mati juo jejak ditikam mati jugaka palawan dayo rang aluih untuk melawan kekuatan gaibka palunak musuh di badan untuk pelunak musuh didiribagai papatah gurindam adat bagai pepatah gurindam adatKarih sampono Ganjo Erah Keris sempurna Ganja Erahlahie bathin pamaga diri Lahir batin pemagar diriKok patah lidah bakeh Allah Kalau patah lidah kepada Tuhanpatah karih bakeh mati Patah keris berarti mati

f. Tungkek

Pamenannyo tungkek kayu kamat Mainannya tongkat kayu kamatujuang tanduk kapalo perak Ujung tanduk kepala perakpanungkek adat jo pusako penopang adat dan pusakaGantang nak tagak jo lanjuangnyo Gantang supaya tegak dengan bubungannyasumpik nan tagak jo isinyo karung supaya tegak dengan isinya

5. Peringatan bagi Penghulu

Falsafah pakaian rang penghulu Falsafah pakaian bagi penghuluDi dalam luhak ranah Minang Di dalam luhak Ranah MinangKalau ambalau meratak ulu Kalau ambalau meretak huluPuntiang tangga mato tabuang Tangkai lepas mata terbuangKayu kuliek mengandung aie Kayu kulit mengandung airLapuknyo sampai kapanguba Lapuknya sampai kepenguba (inti)Binaso tareh nan di dalam Binasa teras yang di dalamKalau penghulu berpaham caie Kalau penghulu berpaham cairJadi sampik alam nan leba Jadi sempit alam yang lebarDunia akhirat badan tabanam Dunia akhirat badan terbenamElok nagari dek pangulu Elok negeri karena penghuluRancak tapian dek nan mudo Cantik tepian karena yang mudaKalau kito mamacik ulu Kalau kita memegang huluPandai menjago puntiang jo mato Pandai menjaga tangkai dan mataPetitih pamenan andai Petitih mainan andaiGurindam pamenan kato Gurindam mainan kataJadi pangulu kalau tak pandai Jadi penghulu kalau tak pandaiCaia nagari kampung binaso Hancur negeri kampung binasaAdat ampek nagari ampek Adat empat negeri empatUndangnyo ampek kito pakai Undangnya empat kita pakaiCupak jo gantang kok indak dapek Cupak dan gantang kalau tak dapatLuhak nan tigo tabangkalai Luhak yang tiga terbengkalaiPayakumbuah baladang kunik Payakumbuh berladang kunirDibao urang ka Kuantan Dibawa orang ke KuantanBapantang kuning dek kunik Pantang kuning karena kunirTak namuah lamak dek santan Tak ingin enak karena santan