Wilayah kekuasaan pagaruyung

Menurut Tomé Pires dalam Suma Oriental, tanah Minangkabau selain dataran tinggi pedalaman Sumatera tempat dimana rajanya tinggal, juga termasuk wilayah pantai timur Arcat (antara Aru dan Rokan) ke Jambi dan kota-kota pelabuhan pantai barat Panchur (Barus), Tiku dan Pariaman. Dari catatan tersebut juga dinyatakan tanah Indragiri, Siak dan Arcat merupakan bagian dari tanah Minangkabau, dengan Teluk Kuantan sebagai pelabuhan utama raja Minangkabau tersebut. Namun belakangan daerah-daerah rantau seperti Siak, Kampar dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh.
Wilayah pengaruh politik Kerajaan Pagaruyung adalah wilayah tempat hidup, tumbuh, dan berkembangnya kebudayaan Minangkabau. Wilayah ini dapat dilacak dari pernyataan tambo (legenda adat) berbahasa Minang ini:


    Dari Sikilang Aia Bangih
    Hingga Taratak Aia Hitam
    Dari Durian Ditakuak Rajo
    Hingga Sialang Balantak Basi


Sikilang Aia Bangih adalah batas utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu. Durian Ditakuak Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi. Yang terakhir, Sialang Balantak Basi adalah wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Riau sekarang. Secara lengkapnya, di dalam tambo dinyatakan bahwa Alam Minangkabau (wilayah Kerajaan Pagaruyung) adalah sebagai berikut:

    Daerah Luhak nan Tigo
    Daerah di sekeliling Gunung Pasaman
    Daerah sekitar Gunung Sago dan Gunung Singgalang
    Daerah sekitar Gunung Talang dan Gunung Kerinci
    Daerah Pariangan Padang Panjang dan sekitarnya
    Daerah di Pesisir Selatan hingga Muko-Muko
    Daerah Jambi sebelah barat
    Daerah yang berbatasan dengan Jambi
    Daerah sekitar Indragiri Hulu hingga Gunung Sailan (Gunung Sahilan, Kampar)
    Daerah sekitar Gunung Sailan dan Singingi
    Daerah hingga ke rantau pesisir sebelah timur
    Daerah sekitar Danau Singkarak dan Batang Ombilin
    Daerah hingga Samudra Indonesia
    Daerah sepanjang pinggiran Batang Sikilang (Pasaman Barat)
    Daerah yang berbatasan dengan Samudra Indonesia
    Daerah sebelah timur Air Bangis (Sungai Beremas, Pasaman Barat)
    Daerah di kawasan Rao dan Mapat Tunggua
    Daerah perbatasan dengan Tapanuli selatan
    Daerah sepanjang pantai barat Sumatra
    Daerah sekitar Silauik dan Lunang
    Daerah hingga Tanjung Simalidu
    Daerah sehiliran Batang Hari


Sistem pemerintahan

Aparat pemerintahan

Adityawarman pada awalnya menyusun sistem pemerintahannya mirip dengan sistem pemerintahan yang ada di Majapahit masa itu, meskipun kemudian menyesuaikannya dengan karakter dan struktur kekuasaan kerajaan sebelumnya (Dharmasraya dan Sriwijaya) yang pernah ada pada masyarakat setempat. Ibukota diperintah secara langsung oleh raja, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh Datuk setempat.
Setelah masuknya Islam, Raja Alam yang berkedudukan di Pagaruyung melaksanakan tugas pemerintahannya dengan bantuan dua orang pembantu utamanya (wakil raja), yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Bersama-sama mereka bertiga disebut Rajo Tigo Selo, artinya tiga orang raja yang "bersila" atau bertahta. Raja Adat memutuskan masalah-masalah adat, sedangkan Raja Ibadat mengurus masalah-masalah agama. Bila ada masalah yang tidak selesai barulah dibawa ke Raja Pagaruyung. Istilah lainnya yang digunakan untuk mereka dalam bahasa Minang ialah tigo tungku sajarangan. Untuk sistem pergantian raja di Minangkabau menggunakan sistem patrilineal[38] berbeda dengan sistem waris dan kekerabatan suku yang masih tetap pada sistem matrilineal.

Selain kedua raja tadi, Raja Alam juga dibantu oleh para pembesar yang disebut Basa Ampek Balai, artinya "empat menteri utama". Mereka adalah:

    Bandaro yang berkedudukan di Sungai Tarab.
    Makhudum yang berkedudukan di Sumanik.
    Indomo yang berkedudukan di Suruaso.
    Tuan Gadang yang berkedudukan di Batipuh.


Belakangan, pengaruh Islam menempatkan Tuan Kadi yang berkedudukan di Padang Ganting masuk menjadi Basa Ampek Balai. Ia mengeser kedudukan Tuan Gadang di Batipuh, dan bertugas menjaga syariah agama.
Sebagai aparat pemerintahan, masing-masing Basa Ampek Balai punya daerah-daerah tertentu tempat mereka berhak menagih upeti sekedarnya, yang disebut rantau masing-masing pembesar tersebut. Bandaro memiliki rantau di Bandar X, rantau Tuan Kadi adalah di VII Koto dekat Sijunjung, Indomo punya rantau di bagian utara Padang sedangkan Makhudum punya rantau di Semenanjung Melayu, di daerah pemukiman orang Minangkabau di sana.
Selain itu dalam menjalankan roda pemerintahan, kerajaan juga mengenal aparat pemerintah yang menjalankan kebijakan dari kerajaan sesuai dengan fungsi masing-masing, yang sebut Langgam nan Tujuah. Mereka terdiri dari:

    Pamuncak Koto Piliang
    Perdamaian Koto Piliang
    Pasak Kungkuang Koto Piliang
    Harimau Campo Koto Piliang
    Camin Taruih Koto Piliang
    Cumati Koto Piliang
    Gajah Tongga Koto Piliang


Pemerintahan Darek dan Rantau
Dalam laporannya, Tomé Pires telah memformulasikan struktur wilayah dari tanah Minangkabau dalam darek (land) dan rantau (sea/coast),walaupun untuk beberapa daerah pantai timur Sumatera seperti Jambi dan Palembang disebutkan telah dipimpin oleh seorang patih yang ditunjuk dari Jawa.
Kerajaan Pagaruyung membawahi lebih dari 500 nagari, yang merupakan satuan wilayah otonom pemerintahan. Nagari-nagari ini merupakan dasar kerajaan, dan mempunyai kewenangan yang luas dalam memerintah. Suatu nagari mempunyai kekayaannya sendiri dan memiliki pengadilan adatnya sendiri. Beberapa buah nagari kadang-kadang membentuk persekutuan. Misalnya Bandar X adalah persekutuan sepuluh nagari di selatan Padang. Kepala persekutuan ini diambil dari kaum penghulu, dan sering diberi gelar raja. Raja kecil ini bertindak sebagai wakil Raja Pagaruyung.
Dalam pembentukan suatu nagari sejak dahulunya telah dikenal dalam istilah pepatah yang ada pada masyarakat adat Minang itu sendiri yaitu Dari Taratak manjadi Dusun, dari Dusun manjadi Koto, dari Koto manjadi Nagari, Nagari ba Panghulu. Jadi dalam sistem administrasi pemerintahan di kawasan Minang dimulai dari struktur terendah disebut dengan Taratak, kemudian berkembang menjadi Dusun, kemudian berkembang menjadi Koto dan kemudian berkembang menjadi Nagari. Biasanya setiap nagari yang dibentuk minimal telah terdiri dari 4 suku yang mendomisili kawasan tersebut.
Darek
Di daerah Darek atau daerah inti Kerajaan Pagaruyung terbagi atas 3 luhak (Luhak Nan Tigo, yaitu Luhak Tak nan Data, belakangan menjadi Luhak Tanah Data, Luhak Agam dan Luhak Limopuluah). Sementara pada setiap nagari pada kawasan luhak ini diperintah oleh para penghulu, yang mengepalai masing-masing suku yang berdiam dalam nagari tersebut. Penghulu dipilih oleh anggota suku, dan warga nagari untuk memimpin dan mengendalikan pemerintahan nagari tersebut. Keputusan pemerintahan diambil melalui kesepakatan para penghulu di Balai Adat, setelah dimusyawarahkan terlebih dahulu. Di daerah inti Kerajaan Pagaruyung, Raja Pagaruyung tetap dihormati walau hanya bertindak sebagai penengah dan penentu batas wilayah.
Rantau
Raja Pagaruyung mengendalikan secara langsung daerah Rantau. Ia boleh membuat peraturan dan memungut pajak di sana. Rantau merupakan suatu kawasan yang menjadi pintu masuk ke alam Minangkabau. Rantau juga berfungsi sebagai tempat mencari kehidupan, kawasan perdagangan. Rantau di Minangkabau dikenal dengan Rantau nan duo terbagi atas Rantau di Hilia (kawasan pesisir timur) dan Rantau di Mudiak (kawasan pesisir barat).
Masing-masing luhak memiliki wilayah rantaunya sendiri. Penduduk Tanah Datar merantau ke arah barat dan tenggara, penduduk Agam merantau ke arah utara dan barat, sedangkan penduduk Limopuluah merantau ke daerah Riau daratan sekarang, yaitu Rantau Kampar, Rokan dan Kuantan. Selain itu, terdapat daerah perbatasan wilayah luhak dan rantau yang disebut sebagai Ujuang Darek Kapalo Rantau. Di daerah rantau seperti di Pasaman, kekuasaan penghulu ini sering berpindah kepada raja-raja kecil, yang memerintah turun temurun. Di Inderapura, raja mengambil gelar sultan. Sementara di kawasan lain mengambil gelar Yang Dipertuan Besar.
Pembagian daerah rantau adalah sebagai berikut:
Rantau Luhak Tanah Data
Rantau Nan Kurang Aso Duo Puluah
    Lubuak Ambacang
    Lubuak Jambi
    Gunuang Koto
    Benai
    Pangian
    Basra
    Sitinjua
    Kopa
    Taluak Ingin
    Inuman
    Surantiah
    Taluak Rayo
    Simpang Kulayang
    Aia Molek
    Pasia Ringgit
    Kuantan
    Talang Mamak
    Kualo Thok
Ujuang Darek Kapalo Rantaunya
    Anduriang Kayu Tanam
    Guguak Kapalo Hilalang
    Sicincin
    Toboh Pakandangan
    Duo Kali Sabaleh Anam Lingkuang
    Tujuah Koto
    Sungai Sariak.
Rantau Luhak Agam
    Nagari-nagari pantai barat Sumatera
    Pasaman Barat
    Pasaman Timur
    Panti
    Rao
    Lubuak Sikapiang
Ujuang Darek Kapalo Rantaunya
   Palembayan
    Silareh Aia
    Lubuak Basuang
    Kampuang Pinang
    Simpang Ampek
    Sungai Garinggiang
    Lubuak Bawan
    Tigo Koto
    Garagahan
    Manggopoh
Rantau Luhak Limopuluah
   Mangilang
    Tanjuang Balik
    Pangkalan
    Koto Alam
    Gunuang Malintang
    Muaro Paiti
    Rantau Barangin
    Rokan Pandalian
    Kuatan Singingi
    Gunuang Sailan
    Kuntu
    Lipek Kain
    Ludai
    Ujuang Bukik
    Sanggan
    Tigo Baleh Koto Kampar
    Sibiruang
    Gunuang Malelo
    Tabiang
    Tanjuang
    Gunuang Bungsu
    Muaro Takuih
    Pangkai
    Binamang
    Tanjuang Abai
    Pulau Gadang
    Baluang Koto Sitangkai
    Tigo Baleh
    Lubuak Aguang
    Limo Koto Kampar Kuok
    Salo
    Bangkinang
    Rumbio
    Aia Tirih
    Taratak Buluah
    Pangkalan Indawang
    Pangkalan Kapeh
    Pangkalan Sarai
    Koto Laweh
Sementara kawasan Rantau Pasisia Panjang atau Banda Sapuluah (Bandar Sepuluh) dipimpin oleh Rajo nan Ampek (4 orang yang bergelar raja; Raja Airhaji, Raja Bungo Pasang, Raja Kambang, Raja Palangai). Kawasan ini merupakan semacam konfederasi dari 10 daerah atau nagari (negeri), yang masing-masing dipimpin oleh 10 orang penghulu. Nagari-nagari tersebut adalah
    Airhaji
    Bungo Pasang atau Painan Banda Salido
    Kambang
    Palangai
    Lakitan
    Tapan
    Tarusan
    Batang Kapeh
    Ampek Baleh Koto
    Limo Koto
Nagari-nagari ini kemudian dikenal sebagai bagian dari Kerajaan Inderapura, termasuk daerah Anak Sungai, yang mencakup lembah Manjuto dan Airdikit (disebut sebagai nagari Ampek Baleh Koto), dan Muko-muko (Limo Koto).
Selain ketiga daerah-daerah rantau tadi, terdapat suatu daerah rantau yang terletak di wilayah Semenanjung Malaya (Malaysia sekarang). Beberapa kawasan rantau tersebut menjadi nagari, kemudian masyarakatnya membentuk konfederasi (semacam Luhak), dan pada masa awal meminta dikirimkan raja sebagai pemimpin atau pemersatu mereka kepada Yang Dipertuan Pagaruyung, kawasan tersebut dikenal sebagai Negeri Sembilan, nagari-nagari tersebut adalah
    Jelai
    Jelebu
    Johol
    Klang
    Naning
    Pasir Besar
    Rembau
    Segamat
    Sungai Ujong............